Cara Memindahkan Website Dari HTTP Ke HTTPS Dengan Aman

Cara Memindahkan Website Dari HTTP Ke HTTPS Dengan Aman. Memindahkan website dari HTTP ke HTTPS terlihat sederhana. Banyak orang menganggap cukup pasang SSL, lalu selesai. Padahal perpindahan ini adalah migrasi teknis yang bisa berdampak langsung pada SEO, tracking, dan pengalaman pengguna. Jika dilakukan tanpa kontrol, anda bisa mengalami masalah mixed content, redirect berantai, halaman terindeks versi ganda, penurunan klik karena canonical salah, sampai data analytics yang terpecah antara HTTP dan HTTPS.

Kabar baiknya, migrasi HTTP ke HTTPS termasuk migrasi yang relatif aman jika anda mengikuti langkah yang benar. Bahkan untuk banyak website, HTTPS adalah fondasi kepercayaan yang meningkatkan kredibilitas dan membuat pengalaman pengguna lebih nyaman. Saya akan membahas cara memindahkan website dari HTTP ke HTTPS dengan aman, rapi, dan minim risiko, termasuk checklist sebelum dan sesudah live, serta cara mengatasi kendala yang paling sering muncul.

Memahami Apa Yang Berubah Saat Pindah Dari HTTP Ke HTTPS

Saat anda mengaktifkan HTTPS, anda sebenarnya menciptakan versi URL yang berbeda. Mesin pencari akan melihat

  • http://domain.com sebagai URL A
  • https://domain.com sebagai URL B

Jika anda tidak mengarahkan semua versi HTTP ke HTTPS secara konsisten, website anda bisa terpecah menjadi dua versi. Ini membuat sinyal SEO terbagi, crawling menjadi tidak efisien, dan indeks menjadi berantakan.

Selain itu, saat HTTPS aktif, browser juga akan memblokir atau memberi peringatan untuk resource yang masih dipanggil melalui HTTP, seperti gambar, file CSS, JavaScript, atau font. Inilah yang disebut mixed content. Mixed content bisa membuat tampilan rusak dan menurunkan kepercayaan.

Karena itu, kunci migrasi bukan hanya memasang SSL, tetapi memastikan semua URL, resource, internal link, canonical, sitemap, dan tracking bergerak serempak ke HTTPS.

Alasan Bisnis Dan SEO Kenapa HTTPS Harus Diaktifkan

Saya tidak akan membahasnya panjang, tapi ini penting sebagai konteks keputusan.

HTTPS memberi manfaat nyata

  • Kepercayaan lebih tinggi karena data terenkripsi
  • Browser tidak menandai situs sebagai tidak aman
  • Integrasi payment dan login lebih aman
  • Banyak fitur web modern bekerja lebih baik di HTTPS
  • Dari sisi SEO, HTTPS adalah sinyal yang membantu, dan yang lebih penting, pengalaman pengguna lebih baik sehingga mendukung performa

Yang paling penting untuk anda, migrasi yang rapi membuat website lebih stabil dan mengurangi potensi masalah teknis di masa depan.

Risiko Yang Paling Sering Terjadi Saat Migrasi HTTPS

Agar anda bisa menghindari masalah sejak awal, berikut risiko yang paling sering saya temui.

  • SSL terpasang tetapi redirect HTTP ke HTTPS tidak konsisten
  • Redirect berantai karena konfigurasi ganda dari plugin dan server
  • Mixed content karena resource masih memakai HTTP
  • Canonical masih menunjuk ke HTTP
  • Sitemap masih berisi URL HTTP
  • Internal link masih mengarah ke HTTP
  • Analytics terpecah karena property atau setting tidak disesuaikan
  • Link eksternal masih HTTP dan tidak diarahkan dengan benar
  • CDN atau proxy belum dikonfigurasi untuk HTTPS
  • Website menjadi lebih lambat karena konfigurasi SSL atau caching tidak optimal

Semua risiko ini bisa dicegah dengan checklist yang benar.

Persiapan Sebelum Migrasi

Saya sarankan anda tidak melakukan perubahan langsung di jam ramai. Siapkan beberapa hal lebih dulu.

Tentukan Ruang Lingkup Website Anda

Apakah website anda hanya domain utama, atau juga ada subdomain seperti

  • blog.domain.com
  • shop.domain.com
  • app.domain.com

Jika ada subdomain, anda perlu memutuskan apakah semuanya ikut HTTPS dan apakah sertifikat SSL anda mencakup semuanya. Untuk subdomain banyak, biasanya lebih praktis menggunakan wildcard SSL, tetapi keputusan tetap bergantung pada penyedia hosting.

Backup Dan Titik Pemulihan

Walaupun migrasi HTTPS jarang menyebabkan kerusakan data, backup tetap penting.

Pastikan anda punya

  • Backup file website
  • Backup database
  • Catatan konfigurasi server atau plugin yang terkait caching dan redirect

Titik pemulihan berarti anda tahu cara mengembalikan setting jika terjadi loop redirect atau error besar.

Audit URL Penting Dan Halaman Uang

Buat daftar halaman yang tidak boleh rusak

  • Homepage
  • Halaman layanan atau produk
  • Halaman kontak
  • Halaman checkout bila ada
  • Landing page iklan
  • Artikel yang paling bertrafik

Daftar ini akan dipakai untuk QA setelah migrasi.

Turunkan TTL Jika Anda Akan Mengubah DNS

Untuk migrasi HTTPS biasanya tidak perlu ubah DNS, karena domain tetap sama. Namun jika anda juga memindah hosting, menurunkan TTL bisa membantu propagasi lebih cepat.

Langkah Teknis Migrasi HTTP Ke HTTPS

Sekarang kita masuk tahap eksekusi. Saya susun langkahnya agar urut dan mudah diikuti.

Langkah 1 Pasang Sertifikat SSL Dengan Benar

Anda bisa menggunakan SSL dari hosting, Let’s Encrypt, atau penyedia lain. Yang penting

  • Sertifikat aktif untuk domain utama
  • Sertifikat aktif untuk www jika anda memakai www
  • Sertifikat tidak expired
  • Rantai sertifikat lengkap

Setelah aktif, uji akses

  • https://domain.com
  • https://www.domain.com

Pastikan tidak ada peringatan sertifikat.

Langkah 2 Tentukan Versi Domain Utama

Anda perlu memilih satu versi canonical untuk domain

  • https://domain.com
    atau
  • https://www.domain.com

Pilih salah satu, lalu semua versi lain diarahkan ke versi utama.

Konsistensi ini penting untuk SEO dan menghindari duplikasi.

Langkah 3 Terapkan Redirect 301 Dari HTTP Ke HTTPS

Ini inti migrasi. Semua URL HTTP harus diarahkan permanen ke HTTPS.

Yang harus anda capai

  • http://domain.com/apa-pun diarahkan ke https://domain.com/apa-pun
  • http://www.domain.com diarahkan ke versi utama juga
  • Redirect satu langkah, tidak berantai

Jika anda memakai WordPress, hindari memasang banyak plugin redirect bersamaan. Idealnya redirect di level server karena lebih cepat dan lebih bersih. Jika harus lewat plugin, gunakan satu plugin yang stabil, lalu pastikan tidak ada aturan lain yang bertabrakan.

Redirect harus 301 permanen, bukan 302.

Langkah 4 Update Setting URL Di CMS

Untuk WordPress misalnya, anda perlu mengubah Site URL dan Home URL menjadi HTTPS. Platform lain biasanya punya setting serupa.

Setelah diubah, website mulai menghasilkan link internal dalam format HTTPS.

Langkah 5 Perbaiki Mixed Content Sampai Bersih

Mixed content biasanya muncul karena ada resource yang masih dipanggil melalui HTTP.

Sumber mixed content yang paling sering

  • URL gambar lama di database
  • Script pihak ketiga yang masih HTTP
  • CSS atau JS yang hard coded HTTP
  • Font dari sumber yang tidak mendukung HTTPS
  • Embed map atau video yang memakai URL lama

Cara praktis menanganinya

  • Ubah semua internal link dan resource internal menjadi HTTPS
  • Gunakan pencarian dan penggantian di database bila diperlukan
  • Pastikan semua resource eksternal memakai HTTPS atau diganti sumbernya

Uji beberapa halaman inti di browser. Jika ada peringatan, cari resource yang bermasalah dan perbaiki sampai hilang.

Langkah 6 Update Internal Link Dan Navigasi

Walaupun redirect akan menangani URL lama, internal link sebaiknya langsung mengarah ke HTTPS agar

  • Tidak bergantung pada redirect
  • Crawl lebih efisien
  • Halaman memuat lebih cepat

Update

  • Menu
  • Footer
  • Link dalam konten
  • Tombol CTA
  • Breadcrumb

Ini penting untuk website yang besar, karena internal link jumlahnya banyak.

Langkah 7 Perbarui Canonical, Hreflang, Dan Schema

Canonical harus menunjuk ke versi HTTPS. Jika canonical masih HTTP, mesin pencari bisa menganggap HTTPS bukan versi utama.

Hal yang perlu anda cek

  • Canonical self referencing versi HTTPS
  • Hreflang bila website multi bahasa memakai HTTPS
  • Schema markup menggunakan HTTPS pada URL yang relevan

Kesalahan canonical adalah salah satu penyebab paling sering indeks menjadi kacau setelah migrasi.

Langkah 8 Perbarui Sitemap Menjadi HTTPS

Sitemap harus berisi URL final versi HTTPS saja.

Pastikan

  • Tidak ada URL HTTP di sitemap
  • Tidak ada URL yang redirect di sitemap
  • Semua URL di sitemap status 200

Setelah sitemap siap, submit ulang di Search Console.

Langkah 9 Tambahkan Properti HTTPS Di Search Console

Untuk Google, versi HTTP dan HTTPS dianggap berbeda pada level properti. Jadi pastikan anda

  • Memverifikasi properti HTTPS
  • Submit sitemap HTTPS
  • Memantau laporan coverage dan indexing untuk HTTPS

Jika anda memakai domain property, biasanya lebih mudah karena mencakup semua protokol dan subdomain. Namun tetap pastikan data yang anda pantau fokus ke versi HTTPS.

Langkah 10 Update Analytics Dan Tracking

Untuk analytics, biasanya tracking script tetap bekerja, tetapi anda perlu memastikan

  • Property dan view tidak terpecah
  • Default URL di setting disesuaikan jika diperlukan
  • Referral exclusion dan cross domain tracking tetap benar bila ada

Untuk pixel iklan dan event konversi

  • Pastikan tag tetap memicu event
  • Pastikan halaman thank you tetap bisa diakses HTTPS
  • Pastikan UTM tidak rusak

Uji konversi secara manual setelah migrasi. Isi form, klik WhatsApp, lakukan transaksi jika ada, lalu cek apakah event terekam.

Langkah 11 Update Link Eksternal Yang Anda Kontrol

Anda tidak bisa mengubah semua backlink, tetapi anda bisa memperbarui link yang anda kendalikan

  • Profil sosial media
  • Listing bisnis
  • Direktori industri
  • Link di email signature
  • Link di landing page iklan
  • Link di materi promosi

Ini membantu mempercepat konsistensi sinyal dan mengurangi ketergantungan pada redirect.

Strategi Peluncuran Yang Aman

Jika semua langkah di atas dilakukan, peluncuran biasanya tidak menakutkan. Namun tetap pilih waktu yang aman.

Saya sarankan

  • Lakukan perubahan saat trafik rendah
  • Pastikan tim siap memantau 2 sampai 6 jam setelah perubahan
  • Pastikan hosting support siap jika ada kendala

Yang paling penting, setelah redirect aktif, jangan biarkan ada versi HTTP yang masih bisa dibuka tanpa redirect.

QA Setelah Migrasi

Begitu migrasi selesai, lakukan QA menyeluruh.

QA teknis

  • http://domain.com otomatis menjadi https://domain.com
  • http://www.domain.com diarahkan ke versi utama HTTPS
  • Tidak ada loop redirect
  • Tidak ada mixed content di halaman utama dan halaman layanan
  • Sertifikat valid dan tidak ada peringatan
  • Kecepatan tidak memburuk

QA SEO

  • Canonical sudah HTTPS
  • Internal link utama sudah HTTPS
  • Sitemap sudah HTTPS dan disubmit
  • Robots tidak memblokir halaman penting
  • Tidak ada lonjakan 404

QA bisnis

  • Form masuk
  • WhatsApp dan tombol CTA berfungsi
  • Checkout bila ada berjalan
  • Tracking konversi aktif
  • Iklan tidak mengarah ke halaman error

Monitoring Dua Minggu Pertama

Perubahan kecil pada ranking bisa terjadi sementara karena Google memproses perpindahan. Itu wajar selama tidak ada error besar.

Hari 1 sampai 3

  • Pantau error crawl
  • Pantau 404
  • Pantau redirect chain
  • Pantau apakah halaman penting terindeks HTTPS

Minggu pertama

  • Pantau klik organik dan impresi
  • Pantau halaman entry
  • Pantau CTR pada halaman uang

Minggu kedua

  • Periksa apakah URL HTTP masih muncul di hasil pencarian
  • Perbaiki internal link yang terlewat
  • Perbaiki resource yang masih HTTP
  • Pastikan sitemap selalu bersih

Jika anda melihat penurunan tajam, biasanya penyebabnya ada pada mixed content, canonical salah, atau redirect yang tidak konsisten.

Mengatasi Masalah Yang Sering Muncul

Agar artikel ini benar benar praktis, saya rangkum cara mengatasi masalah yang sering terjadi.

Masalah loop redirect
Biasanya terjadi karena aturan redirect ganda dari server dan plugin. Solusinya matikan salah satunya, lalu pastikan hanya ada satu sumber aturan redirect.

Masalah mixed content tidak hilang
Biasanya ada URL hard coded di database atau theme. Lakukan pencarian URL http dan ganti ke https, lalu bersihkan cache.

Masalah HTTP masih terindeks
Biasanya sitemap atau canonical masih HTTP. Pastikan sitemap hanya HTTPS, canonical HTTPS, dan redirect 301 aktif. Seiring waktu, indeks akan bergeser.

Masalah website lebih lambat setelah HTTPS
Biasanya caching belum optimal atau ada script eksternal yang lambat. Audit resource, aktifkan caching, dan optimalkan gambar.

Masalah tracking konversi tidak tercatat
Biasanya tag tidak terpasang di template baru atau event tidak memicu karena perubahan halaman. Uji event, cek tag manager, dan pastikan jalur konversi tidak berubah.

Migrasi HTTPS Sebagai Kesempatan Memperbaiki Fondasi Website

Saya sarankan anda memanfaatkan momen migrasi untuk merapikan hal kecil yang sering diabaikan

  • Rapikan struktur internal link di halaman layanan
  • Perbaiki halaman kontak dan CTA agar lebih jelas
  • Bersihkan plugin yang tidak perlu
  • Optimalkan gambar dan caching
  • Pastikan halaman yang menghasilkan lead lebih cepat dibuka di mobile

Jika setelah HTTPS aktif anda ingin mempercepat lead, anda bisa mengarahkan trafik berkualitas ke halaman layanan yang sudah lebih rapi. Kampanye Google Ads yang terukur bisa membantu menguji halaman mana yang paling konversi dan mempercepat pertumbuhan. Jika anda membutuhkan bantuan eksekusi kampanye yang fokus pada performa, anda bisa melihat layanan jasa google ads agar jalur akuisisi tetap stabil saat transisi.

Baca juga: Menggabungkan Dua Website Menjadi Satu Tanpa Turun Ranking.

Checklist Ringkas Migrasi HTTP Ke HTTPS

Agar mudah dipakai, ini ringkasannya.

Sebelum migrasi

  • SSL siap untuk domain dan www
  • Tentukan versi domain utama
  • Backup dan catatan konfigurasi
  • Daftar halaman penting untuk QA

Saat migrasi

  • Aktifkan redirect 301 HTTP ke HTTPS
  • Update setting URL di CMS
  • Bersihkan mixed content
  • Update internal link
  • Update canonical dan schema
  • Update sitemap dan submit di Search Console
  • Pastikan tracking konversi berjalan

Setelah migrasi

  • QA redirect dan mixed content
  • Pantau 404 dan error crawl
  • Pantau indexing HTTPS
  • Update link eksternal yang anda kontrol
  • Monitoring dua minggu pertama
error: Content is protected !!